Jangan Berdiri di Tempat Gelap
Suatu
hari di awal sebuah kelas 6 Sekolah Dasar dimulai dengan perkenalan oleh
seorang guru bernama Ibu Ari, Sang Kepala Sekolah sekaligus Wali Kelas 6. “Kelas
6 adalah kelas terakhir di tingkat sekolah dasar. Di kelas 6 para siswa akan
menghadapi ujian kelulusan yang menentukan bisa atau tidaknya melanjutkan ke
jenjang SMP”, ujar Ibu Ari. Proses
belajar mengajar pun berjalan hampir tanpa adanya kejadian penting bagi para
siswa termasuk siswa yang akrab dipanggil Ical, nama aslinya AbuRizal, salah
satu siswa kelas 6 tersebut. Ical adalah salah seorang siswa teladan di
sekolahnya yang selalu mendapat peringkat pertama selama lima tahun
berturut-turut.
Ujian
akhir sudah berlangsung dan tiba saatnya untuk mengumumkan hasil ujian yang
dihadiri oleh para orang tua murid. Ical sudah tidak sabar untuk mengetahui
hasil pengumuman ujian dan ia sangat yakin bahwa dialah yang akan disebutkan
namanya oleh Kepala Sekolah sebagai peringkat pertama. Wajah Ical sudah sangat
gembira karena akan mempersembahkan hadiah yang sangat berharga bagi orang
tuanya sebagai murid terbaik. Ia sudah membayangkan bagaimana rasanya jika
dipanggil dan maju ke depan panggung menghadap ke seluruh orang tua. Tiba
saatnya Kepala Sekolah membacakan nama siswa terbaik yang menempati peringkat
pertama. Degup jantung Ical sangat kencang, kaki dan tangannya sangat dingin
karena keringat yang mendadak muncul. Teman-temannya bersorak nama Ical saat
Kepala Sekolah hendak menyebutkan siswa peringkat pertama. Akhirnya bu Ari
mengumumkan yang meraih peringkat pertama adalah Lingga Kusuma Karim. Sedangkan
Ical memperoleh peringkat kedua. Mendengar hal itu Ical merasa seluruh
persendiannya sangat lemas dan tidak bisa menerima kenyataan bahwa bukan dia
yang meraih peringkat pertama. Ia memikirkan peristiwa apa yang membuat ia
gagal mempertahankan kejayaan lima tahun itu.
Semenjak
dalam perjalanan pulang ke rumah Ical tak banyak bicara. Hingga beberapa hari
kemudian Ical menjadi sangat pendiam, suka mengurung diri dalam kamar dan tidak
mau makan. Melihat keadaan Ical yang demikian orang tua Ical sangat khawatir
dan akhirnya mereka mengajak buah hatinya untuk berlibur ke sebuah villa milik
mereka untuk menghibur kesedihan Ical. Namun di sana pun Ical sama seperti di
rumah. Hingga di suatu malam Ical diajak pergi ke suatu tempat oleh ayahnya. Ayah
Ical menceritakan kepadanya makna dari namanya yaitu AbuRizal (seorang
laki-laki pemberani, pemimpin yang berjiwa pelindung). Sang ayah mengatakan :
“seorang laki-laki pemberani, pemimpin yang berjiwa pelindung, tak akan
membiarkan dirinya dikuasai kesedihan. Bukan kesedihan yang menguasai dirinya,
tetapi dirinya yang menguasai kesedihan. Jika kita anggap suasana gembira
bagaikan siang hari yang cerah dan terang, maka kesedihan adalah suasana gelap.
Kita tidak boleh terlalu lama berada di dalam gelap, karena jika kita terlalu
lama di dalam gelap bayangan kita akan pergi meninggalkan kita.” Ical tersentak
mendengar perkataan ayahnya. Beberapa nasehat diberikan dan kisah menarik penuh
hikmah yang menggugah hati diceritakan sang ayah kepada Ical. Hingga akhirnya
terpikirkan dalam benak Ical bahwa terlalu sedih seperti yang dirasakannya saat
kemarin adalah hal yang salah besar. Kemudian Ical berkata : “Ical tidak akan
menghukum diri sendiri dengan tenggelam dalam kesedihan. Ical harus bangkit dan
menjadi bintang yang bersinar penuh makna.” Ical pun kini menemukan bintang
paling terang dalam kehidupannya, ibu dan ayahnya. Karena cahaya cinta orang
tuanya Ical bisa menemukan cahaya bintang-bintang lainnya. (Diambil dari Novel Anak Sejuta Bintang karya Akmal Nasery Basral)
Tidak
semua yang kita inginkan bisa kita raih. Karena terkadang takdir bisa berkata
lain tidak seperti apa yang kita harapkan. Tetapi kita harus tetap berusaha
untuk melakukan yang terbaik terhadap sesuatu dan bertawakkal. Seandainya apa
yang kita harapkan belum tercapai, maka janganlah kita dikuasai kesedihan
justru kita yang harus menguasai kesedihan. Yakinlah bahwa Allah memiliki
rencana yang terindah untuk hamba-hamba-Nya yang selalu taat kepada-Nya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar