MAKALAH PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN SISWA SMP
(ANAK USIA REMAJA AWAL 12-16 TAHUN)
Tugas ini Disusun untuk Memenuhi Tugas Ujian Akhir Semester pada
Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian
Dosen Pengampu : Drs. Syamsudin, M.Pd
Oleh :
Fitroh Resmi
Hanum
NPM: 20120720090
FAKULTAS AGAMA
ISLAM
JURUSAN
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (TARBIYAH)
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2014
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb,
Syukur Alhamdulillah saya panjatkan kehadirat
Allah SWT, karena berkat rahmat, hidayah dan karunia-Nya sehingga tugas ini
dapat terselesaikan. Tidak lupa pula shalawat serta salam senantiasa
tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, sebagai Uswatun Khasanah terbaik bagi
umat dalam mencari ridho Allah SWT, untuk mencapai kebahagiaan Dunia dan
Akhirat.
Tugas ini disusun untuk memenuhi tugas Ujian Akhir Semester pada
mata kuliah Pengembangan Kepribadian. Selanjutnya penulis mengucapkan terima
kasih kepada bapak Drs. Syamsudin, M.Pd, selaku dosen pengampu mata kuliah ini
dan pihak lain yang telah membantu dalam menyelesaikan tugas proposal skripsi
ini.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penyusunan makalah ini masih
jauh dari kesempurnaan. Hal ini disebabkan karena keterbatasan kemampuan dan
kurangnya pengetahuan yang ada pada penulis. Oleh karena itu penulis
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pembaca proposal
skripsi ini. Akhirukallam akhirnya penulis berharap, semoga makalah ini dapat bermanfaat.
Aamiin Ya Robbal’alamiin.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Selama ini, dari tiga ranah
kepintaran yaitu kecerdasa (kognisi), keterampilan (psikomotor), dan
kepribadian (afeksi), dua yang pertama lebih dipentingkan dalam praktek
pendidikan. Sementara ranah kepribadian sering kali kurang memperoleh
perhatian. Seolah kecerdasan manusia hanya berhubungan dengan otaknya, sehingga
muncul teori tentang cara mengukur kecerdasan otak yang dikenal dengan IQ.
Namun dalam beberapa decade terakhir
pandangan tentang IQ memeperoleh kritik keras dari teori tentang kecerdasan
emosional (EQ). Pandangan ini menyatakan bahwa kemampuan menahan diri sebagai
inti EQ adalah akar kecerdasan yang lebih penting dari IQ. Belakangan bahkan
muncul pemikiran filosofis tentang kecerdasan spiritual (SQ) yaitu mengenai
kemampuan hati nurani atau “kata hati” yang lebih hebat dari semua
kecerdasan. SQ dan EQ diapandang sebagai
unsure pokok yang menjadikan seseorang dapat mencapai kesuksesan hidup sejati (A.
Munir, 2002:3). Menurut Daniel Goleman (Emotional Intelligence – 1996) : orang yang
mempunyai IQ tinggi tapi EQ rendah cenderung mengalami kegagalan yang lebih
besar dibanding dengan orang yang IQ-nya rata-rata tetapi EQ-nya tinggi,
artinya bahwa penggunaan EQ atau olahrasa justru menjadi hal yang sangat
penting, dimana menurut Goleman dalam dunia kerja, yang berperan dalam kesuksesan
karir seseorang adalah 85% EQ dan 15% IQ. Jadi, peran EQ sangat signifikan. Oleh karena itu, perlu adanya kesinergian antara kecerdasan IQ,
EQ dan SQ.
Namun
idealitanya dalam dunia pendidikan selama ini kurang memberiakn perhatian pada
pertumbuhan pribadi anak yang sering dibiarkan. Padahal hanya dengan memeiliki
IQ yang tinggi tanpa EQ dan SQ yang memadai akan membuat seseorang mudah
melakukan perbuatan penyimpangan maupun kejahatan professional.
Beberapa
tahun belakangan ini kita mendengar dari berbagai media, menyaksikan di
berbagai berita TV bahkan melihat secara langsung anak-anak muda, terutama
pelajar tingkat SMP melakukan perilaku menyimpang seperti tawuran antar
pelajar, hubungan seks bebas, perkosaan dan bunuh diri. Kebiasaan mengisap
ganja, sabu-sabu dan minum-minuman keras sangat marak terjadi di kalangan
remaja bahkan semakin meningkat. Berbagai
peristiwa tersebut mencerminkan rendahnya kejiwaan anak-anak muda sekolahan
yang tidak tumbuh dewasa dan terkena penyakit jiwa. Potret tersebut juga menunjukkan
kurangnya kecerdasan EQ pada pelajar. Seseorang yang ber-EQ tinggi akan mampu
mengontrol emosi dan menciptakan keseimbangan antara dirinya sendiri dengan
orang lain. Selain EQ, SQ juga berperan penting dalam pendidikan.
Spiritual Quotient (SQ) yakni kemampuan manusia untuk memaknai hidup. SQ bukan
hanya berhubungan dengan keagamaan namun juga kepada pencerahan jiwa, mampu
mengontrol diri dan melakukan sesuatu dengan bijak. Selain pentingnya sinergi
antara IQ, EQ, dan SQ dalam mencapai keberhasilan pendidikan, pendidikan
karakter juga harus diperhatikan pada
setiap jenjang pendidikan. Karena pendidkan karakter akan terbentuk mulai dari
jenjang pra sekolah atau usia TK. Sehingga jenjang selanjutnya akan mematangkan
karakter yang seharusnya dibentuk pada setiap siswa.
Berangkat dari kasus-kasus
penyimpangan maupun kejahatan di kalangan remaja yang sekarang sedang
marak-maraknya, khususnya pada siswa pelajar SMP yang telah dijelaskan di atas,
maka penulis akan menyajikan makalah tentang pengembangan kepribadian siswa
SMP.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Bagaimana
perkembangan individu pada masa remaja?
2.
Apa
peran guru dan orang tua dalam mengembangkan kepribadian siswa SMP?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Perkembangan Individu Pada Masa Remaja
Masa remaja sebenarnya tidak
mempunyai tempat yang jelas. Ia tidak termasuk pada golongan anak, tidak juga
golongan orang dewasa. Batasan usia remaja adalah masa diantara 12-21 tahun,
dengan perincian 12-15 tahun masa remaja awal, 15-18 tahun masa remaja
pertengahan, dan 18-21 tahun masa remaja akhir. Di Indonesia masa remaja masih
merupakan masa sekolah. Remaja pada umumnya duduk di bangku sekolah menengah
pertama (SMP) atau yang setingkat adalah usia 12-15 tahun yaitu masa remaja
awal.
Anak remaja di desa-desa terutama di
pelosok-pelosok masih saja dijumpai pada mereka yang tidak melanjutkan sekolah
lagi, meskipun mereka dapat menikamati pendidikan sekolah dasar. Kebanyakan
dari mereka yang tidak melanjutkan mereka membantu orang tuanya di sawah atau
di ladang, bahkan ada yang mencari pekerjaan di kota. Bagi mereka yang tidak
dapat melanjutkan dan tidak mendapat pekerjaan karena kesempatan kerja juga
tidak banyak, maka banyak remaja yang tidak menentu nasibnya. Sehingga mereka
banyak yang frustasi dan melakukan hal-hal negative. Kini masalah sekolah dan
pekerjaan menjadi masalah remaja yang serius di Indonesia dan sangat memerlukan
pengatasan yang tepat.
Masalahnya sekolah masih banyak
kekurangan dalam mengatasi maslah yang terjadi pada sebagian besar remaja saat
ini. Untuk itu betapa besar peran sekolah dalam memenuhi tugas-tugas
perkembangan remaja, yaitu pendidikan kepribadian. Sekolah harus memberikan
bantuan pada remaja pada saat remaja melepaskan secara emosional dari orang
tuanya, pada saat mempersiapkan diri untuk ekonomis mandiri, mencari pekerjaan,
membuat hubungan baik denagn teman-teman sebaya, pada saat remaja mencari waktu
luang yang baik, dalam mengembangkan kemampuan kreatifnya. Sehingga mereka
dapat tumbuh menjadi generasi yang cerdas dan kreatif, serta luhur budi
pekerti.
1.
Teori
Psikososial Erikson
Erikson
adalah seorang teoritisi ternama dalam bidang perkembangan rentang hidup. Salah
satu sumbangan terbesarnya yaitu teori psikososial tentang perkembangan. Dalam
teorinya, Erikson membagi perkembangan manusia berdasarkan kualitas ego menjadi
delapan tahap perkembangan.
TABEL 1
Tahap-tahap Perkembangan Psikososial Erikson
Tahap Psikososial
|
Usia kira-kira
|
Kepercayaan vs ketidakpercayaan
|
Lahir-1 tahun (masa bayi)
|
Otonomi vs rasa malu dan ragu-ragu
|
1-3 tahun (masa kanak-kanak)
|
Inisiatif vs rasa bersalah
|
4-5 tahun (masa pra-sekolah)
|
Ketekunan vsrendah diri
|
6-11 tahun (masa sekoalh dasar)
|
Identitas dan kebingungan peran
|
12-20 tahun (masa remaja)
|
Keintiman vs isolasi
|
20-24 tahun (masa awal dewasa)
|
Generativitas vs stagnasi
|
25-65 tahun (masa pertengahan dewasa )
|
Integritas ego vs keputusan
|
65 tahun-mati (masa akhir dewasa)
|
Masing-masing tahap terdiri dari tugas perkembangan yang khas,
yaitu suatu masa yang krisis dimana individu harus mampu melewatinya. Semakin
berhasil individu mengatasi krisis, akan semakin sehat perkembangannya.
Dalam karya klasiknya yang berjudul Identity: Youth and Crisis
(1968), terlihat bahwa dari kedelapan tahap perkembangan Erikson lebih
menekankan pada identitas vs. kebingungan peran yang terjadi selama remaja. Hal
ini karena tahap tersebut merupakan masa peralihan dari masa anak-anak menuju
masa dewasa. Peristiwa-peristiwa yang terjadi pada tahap ini sangat menentukan
perkembangan kepribadian masa dewasa. Pada masa ini individu mulai memiliki
perasaan tentang identitas dirinya. Ia mulai menyadari sifat-sifat yang ada
pada dirinya. Akan tetapi karena peraliha yang sulit dari masa anak-anak ke
masa dewasa dan kepekaan terhadap
perubahan sosial, maka selama tahap pembentukan identitas ini seorang remaja
mengalami penderitaan paling dalam dibandingkan pada masa-masa lain akibat
kekacauan peranan atau kekacauan identitas. Kondisi tersebut membuat remaja
memiliki perasaan terisolasi, hampa, cemas, dan bimbang. Mereka sangat peka
terhadap caraa-cara orang lain memandang dirinya, mudah tersinggung dan merasa
malu. Selama masa kekacauan identitas ini tingkah laku remaja tidak konsisten
dan tidak dapat diprediksikan (Desmita, 2005:213-214).
Apabila seorang remaja pada masa ini berhasil berhubungan baik
dengan lingkungan diamana ia berada, ia akan merasa damai dan tahu ke mana ia
harus berjalan dan berbuat. Sebaliknya jika ia gagal mengatasi masa krisis ini
ia bagaikan mengalami mati karena kebingngan akan jati dirinya yang tak tahu
arah jalan hidup. Perasaan seperti itu akan mngakibatkan kemungkinan muncul
suatu respons remaja terhadap berbagai perselisihan dan tuntutan pada masanya
itu dengan cara mungkin menjadi penjahat atau terlibat dalam berbagai
penyimpangan perilaku lainnya (A. Munir, 2002:71).
Berdasarkan kondisi demikian, tugas remaja yang harus diselesaikan
adalah krisis identitas, sehingga terbentuk identitas diri yang stabil pada
masa akhir remaja. Remaja yang berhasil melewati masa krisisnya yaitu mencapai
suatu identitas diri yang stabil, akan mengetahui dengan jelas siapa dirinya.
2.
Perkembangan
Sosial Remaja
Perkembangan sosial remaja ditandai dengan gejala meningkatnya
pengaruh teman sebaya dalam kehidupan mereka. Sebagian besar waktunya
dihabiskan bersama teman-teman sebaya mereka. Mereka suka berkelompok,
mengadakan perkumpulan untuk bermain bersama atau membuat rencana bersama untuk
saling tukar pengalaman. Aktivitas tersebut juga dapat bersifat agresif seperti
mencuri, penganiayaan, tawuran antar pelajar, namun dalam hal ini biasanya
dalakukan oleh kelompok anak yang nakal. Pada masa remaja hubungan dengan teman
sebaya memiliki arti yang sangat penting bagi kehidpannya. Mereka menjalin
hubungan dengan teman sebayanya lebih didasarkan pada hubungan persahabatan
yang saling timbal balik.
Bebarapa ahli teori menekankan bahwa teman sebaya juga memiliki
pengaruh negative terhadap perkembangan anak remaja. Bagi seorang remaja
ditolak dan diabaikan oleh teman sebaya menyebabkan
perasaan kesepian hingga akhirnya permusuhan. Sejumlah ahli juga mengatakan
budaya teman sebaya remaja merupakan bentuk kejahatan yang merusak nilai-nilai
dan control orang tua. Bahkan teman sebaya dapat memperkenalakn remaja kepada
obat-obatan terlarang, alcohol, kenalan, dan berbagai bentuk penyimpangan
lainnya (Desmita, 2005:221).
Meskipun pengaruh teman sebaya berpengaruh besar terhadap kehidupan
remaja, peran orang tua di sini sangat dibutuhkan sebagai pengontrol tingkah
laku anaknya dalam bergaul dengan teman sebayanya agar anak remaja tersebut
tidak masuk ke dalam pengaruh negative temannya.
3.
Perkembangan
Seksualitas
Salah satu fenomenna kehidupan remaja yang paling menonjol adalah
terjadinya minat peningkatan minat dan motivasi seksualitas. Peningkatan minat
dan motivasi seksualitas ini dipengaruhi oleh perubahan-perubahan fisik selama
pubertas. Yaitu matangnya organ-organ seksual dan perubahan-perubahan hormonal,
mengakibatkan munculnya dorongan seksual pada diri remaja, bahkan lebih tinggi
dibandingkan dorongan seksual orang dewasa.
Belakangan ini akibat dari perubahan-perubahan norma-norma budaya
aktivitas seksual remaja terlihat semakin meningkat. Sejumlah data penelitian
menunjukkan bahwa remaja mempunyai angka terbesar dalam melakukan hubungan
seksual. Fenomena ini sangat mengkhawatirkan orang tua dan masyarakat. Meskipun
seksualitas merupakan bagian normal dari perkembangan, tetapi perilaku seksual
tersebut memiliki resiko tinggi yang tidak hanya ditanggung oleh remaja, tetapi
orang tua bahkan masyarakat.
B.
Peran Guru dan Orang Tua Dalam Mengembangkan Kepribadian Siswa SMP (Anak
Usia Remaja)
Melihat kondisi
pada remaja saat ini, terutama di kalangan pelajar yang banyak melakukan
tindakan penyimpangan, kriminalitas, maraknya perbuatan seksualitas di kalangan
remaja menajadi perhatian khusus terutama bagi orang tua dan sekolah khususnya
guru. Berdasarkan kondisi tersebut, peran orang tua dan guru sangat besar dalam
rangka menanamkan pendidikan karakter pada kepribadian remaja agar mereka dapat
menjalankan perannya sebagai remaja dengan baik.
1.
Peran
Guru
Peran guru sebagai pendidik (nurturer) merupakan peran-peran yang
berkaitan dengan tugas-tugas memberi bantuan dan dorongan (supporter),
tugas-tugas pengawasan dan pembinaan (supervisor) serta tugas-tugas yang
berkaitan dengan mendisiplinkan anak agar anak itu menjadi patuh terhadap
aturan-aturan sekolah dan norma hidup dalam keluarga dan masyarakat.
Tugas-tugas ini berkaitan dengan meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan anak
untuk memperoleh pengalaman-pengalaman lebih lanjut seperti penggunaan
kesehatan jasmani, bebas dari orang tua, dan orang dewasa yang lain, moralitas,
tanggung jawab kemasyarakatan, pengetahuan dan keterampilan dasar, persiapan. Oleh karena itu tugas guru dapat
disebut pendidik dan pemeliharaan anak. Guru sebagai penanggung jawab
pendisiplinan anak harus mengontrol setiap aktivitas anak-anak agar tingkah
laku anak tidak menyimpang dengan norma-norma yang ada.
Peranan guru sebagai pengajar dan pembimbing dalam pengalaman
belajar. Setiap guru harus memberikan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman
lain di luar fungsi sekolah seperti hasil belajar yang berupa tingkah laku
pribadi dan spiritual dan mengarahkan peserta didik kepada hal-hal yang
positif. Kurikulum harus berisi hal-hal tersebut di atas sehingga anak
memiliki pribadi yang sesuai dengan nilai-nilai hidup yang dianut oleh bangsa
dan negaranya, mempunyai pengetahuan dan keterampilan dasar untuk hidup dalam
masyarakat dan pengetahuan untuk mengembangkan kemampuannya lebih lanjut.
2.
Peran
Orang Tua
Pada masa remaja peran orang tua tidak lagi sangat berpengaruh
terhadap kehidupan anak. Dengan kata lain, pengaruh orang tua mulai berkurang. Anak juga merasakan tekanan dari teman sebaya
(peer pressure) untuk mengadopsi nilai-nilai, kebiasaan, model rambut/pakaian,
gaya, dan permainan yang sama dengan teman-teman dalam kelompok. Dengan kata
lain, lingkungan pergaulan anak sangat berpengaruh. karena itu, anak perlu
dibimbing untuk belajar membedakan dan memilih teman-teman dengan bijak.
Masa remaja adalah masa dimana anak sedang mencari siapa jati
dirinya. Seperti apa dirinya sangat penting sekali diketahui olehnya. Sebab
apabila si remaja tidak tahu siapa dirinya sedangkan pada masa itu teman sebaya
memiliki pengaruh yang sangat besar pada dirinya, maka ia tidak akan berdaya
mengevaluasi masukan maupun bujukan dari teman-temannya. Mereka akan cenderung
mengikuti apa-apa yang dikatakan temannya.
Agar
anak remaja memiliki konsep yang jelas, mengetahui siapa sebenarnya dirinya,
maka di sini masukan dari orang tua sangat penting. Namun peran orang tua tidak
hanya sebatas ketika anak memasuki usia remaja, melainkan sejak ank usia dini.
Beberapa
hal yang bisa dan seharusnya dimasukkan oleh orang tua ke dalam diri anak:
a. Orang
tua perlu menanamkan kepada anak bahwa anak adalah seseorang yang mereka
kasihi, yang bukan saja mereka sambut tapi sangat mereka kasihi. Dengan kata
lain, mereka ini adalah anak-anak yang berharga di mata orang tua. Anak-anak
perlu mengetahui bahwa mereka itu penting dan berharga.
b. Orang
tua juga perlu mengarahkan anak ke mana dia harus pergi, dengan siapa dia harus
bergaul, bagaimana dia harus bertindak, hidup seperti apa yang baik. Kita perlu
mengkomunikasikan pada anak, engkau ini sebetulnya siapa dan engkau seharusnya
menjadi seperti apa. Yang menarik untuk diperhatikan adalah, ada anak yang pada
waktu memasuki usia remaja mempunyai 2 sisi yang berbeda. Di rumah dia kelihatan
manis sehingga menyukakan hati orang tua, tapi kemudian orang tua mendapat
laporan yang bertolak belakang dari gurunya atau teman-teman mereka.
Ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan terjadinya hal ini:
Ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan terjadinya hal ini:
1) Kemungkinan
pertama adalah dia kebetulan berkumpul dengan teman-teman yang mempunyai gaya
atau nilai hidup yang sangat berbeda dengan yang dianut oleh orang tuanya.
2) Anak-anak
remaja memang sedang memasuki usia di mana dia mulai berpikir sendiri.
Orang tua perlu memberitahukan pada anak-anak
bahwa mereka mempunyai kemampuan atau keunikan tertentu. Di sinilah orang tua
berfungsi sebagai pemberitahu, sebagai pemberi tanggapan, atau sebagai cermin
yang bisa memberitahukan anak: "Inilah yang seharusnya kamu miliki dan
inilah keadaanmu sekarang." Anak-anak perlu mengetahui apa kesanggupan,
kebiasaan, keunikan, dan kekhususan yang dimilikinya.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Masa remaja adalah masa dimana si remaja sedang berusaha mencari
siapa jati dirinya. Seseorang pada masa ini harus mencari tahu siapa dirinya
sebenarnya. Pada masa ini teman sebaya memiliki pengaruh yang sangat besar
terhadap kehidupannya. Karena pada masa ini orang tua kurang berpengaruh
terhadap anak, justru teman sebaya yang lebih berpengaruh karena si remaja
lebih banyak menghabiskan waktu di luar denagn teman sebayanya.
Remaja yang tidak dapat mengetahui siapa jati dirinya, maka ia
tidak akan dapat mengevaluasi masukan maupun bujukan dari teman sebayanya,
tetapi ia hanya akan mengikuti saja apa yang dikatakan oleh teman-temannya. maka
dari itu di kalanagan remaja banyak terjadi perilaku penyimpanan, kriminalitas,
seksualitas dan lain sebagainya dikarenakan kurangnya control diri pada remaja
dan control orang tua terhadap anaknya. Untuk itu betapa pentingnya penanaman
pendidikan karakter sejak dini terutama mulai dari lingkungan keluarga hingga
sekolah, yaitu peranan guru dalam mendidik peserta didik agar mereka menjadi
generasi muda penerus masa depan yang cerdas, kreatif dan berkepribadian
akhlakul karimah. Karena masa depan suatu bangsa berada di tangan para pemuda
yang tidak lain adalah anak remaja.
Desmita. 2005. Psikologi Perkembangan. Bandung: Rosdakarya.
Haditono, Siti Rahayu. 2006. Psikologi Perkembangan Pengantar
dalam Berbagai Bagiannya.. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Mulkhan, Abdul Munir. 2002. Cerdas di Kelas Sekolah Kepribadian
Rangkuman Model Pengembangan Kepribadian dalam Pendidikan Berbasis Kelas.
Yogyakarta: Kreasi Wacana.
http://.Peran
Orangtua dalam Pembentukan Jati Diri Remaja_TELAGA Tegur Sapa Gembala Keluarga.htm
Tidak ada komentar:
Posting Komentar