Jumat, 07 November 2014

PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN

MAKALAH PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN SISWA SMP
(ANAK USIA REMAJA AWAL 12-16 TAHUN)
Tugas ini Disusun untuk Memenuhi Tugas Ujian Akhir Semester pada Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian
Dosen Pengampu : Drs. Syamsudin, M.Pd








Oleh :
Fitroh Resmi Hanum
NPM: 20120720090





FAKULTAS AGAMA ISLAM
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (TARBIYAH)
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2014









KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb,
Syukur Alhamdulillah saya panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat, hidayah dan karunia-Nya sehingga tugas ini dapat terselesaikan. Tidak lupa pula shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, sebagai Uswatun Khasanah terbaik bagi umat dalam mencari ridho Allah SWT, untuk mencapai kebahagiaan Dunia dan Akhirat.
Tugas ini disusun untuk memenuhi tugas Ujian Akhir Semester pada mata kuliah Pengembangan Kepribadian. Selanjutnya penulis mengucapkan terima kasih kepada bapak Drs. Syamsudin, M.Pd, selaku dosen pengampu mata kuliah ini dan pihak lain yang telah membantu dalam menyelesaikan tugas proposal skripsi ini.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Hal ini disebabkan karena keterbatasan kemampuan dan kurangnya pengetahuan yang ada pada penulis. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pembaca proposal skripsi ini. Akhirukallam akhirnya penulis berharap, semoga makalah ini dapat bermanfaat. Aamiin Ya Robbal’alamiin.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.





 

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Selama ini, dari tiga ranah kepintaran yaitu kecerdasa (kognisi), keterampilan (psikomotor), dan kepribadian (afeksi), dua yang pertama lebih dipentingkan dalam praktek pendidikan. Sementara ranah kepribadian sering kali kurang memperoleh perhatian. Seolah kecerdasan manusia hanya berhubungan dengan otaknya, sehingga muncul teori tentang cara mengukur kecerdasan otak yang dikenal dengan IQ.
Namun dalam beberapa decade terakhir pandangan tentang IQ memeperoleh kritik keras dari teori tentang kecerdasan emosional (EQ). Pandangan ini menyatakan bahwa kemampuan menahan diri sebagai inti EQ adalah akar kecerdasan yang lebih penting dari IQ. Belakangan bahkan muncul pemikiran filosofis tentang kecerdasan spiritual (SQ) yaitu mengenai kemampuan hati nurani atau “kata hati” yang lebih hebat dari semua kecerdasan.  SQ dan EQ diapandang sebagai unsure pokok yang menjadikan seseorang dapat mencapai kesuksesan hidup sejati (A. Munir, 2002:3). Menurut Daniel Goleman (Emotional Intelligence – 1996) : orang yang mempunyai IQ tinggi tapi EQ rendah cenderung mengalami kegagalan yang lebih besar dibanding dengan orang yang IQ-nya rata-rata tetapi EQ-nya tinggi, artinya bahwa penggunaan EQ atau olahrasa justru menjadi hal yang sangat penting, dimana menurut Goleman dalam dunia kerja, yang berperan dalam kesuksesan karir seseorang adalah 85% EQ dan 15% IQ. Jadi, peran EQ sangat signifikan. Oleh karena itu, perlu adanya kesinergian antara kecerdasan IQ, EQ dan SQ.
Namun idealitanya dalam dunia pendidikan selama ini kurang memberiakn perhatian pada pertumbuhan pribadi anak yang sering dibiarkan. Padahal hanya dengan memeiliki IQ yang tinggi tanpa EQ dan SQ yang memadai akan membuat seseorang mudah melakukan perbuatan penyimpangan maupun kejahatan professional.
Beberapa tahun belakangan ini kita mendengar dari berbagai media, menyaksikan di berbagai berita TV bahkan melihat secara langsung anak-anak muda, terutama pelajar tingkat SMP melakukan perilaku menyimpang seperti tawuran antar pelajar, hubungan seks bebas, perkosaan dan bunuh diri. Kebiasaan mengisap ganja, sabu-sabu dan minum-minuman keras sangat marak terjadi di kalangan remaja bahkan semakin meningkat. Berbagai peristiwa tersebut mencerminkan rendahnya kejiwaan anak-anak muda sekolahan yang tidak tumbuh dewasa dan terkena penyakit jiwa. Potret tersebut juga menunjukkan kurangnya kecerdasan EQ pada pelajar. Seseorang yang ber-EQ tinggi akan mampu mengontrol emosi dan menciptakan keseimbangan antara dirinya sendiri dengan orang lain. Selain EQ, SQ juga berperan penting dalam pendidikan. Spiritual Quotient (SQ) yakni kemampuan manusia untuk memaknai hidup. SQ bukan hanya berhubungan dengan keagamaan namun juga kepada pencerahan jiwa, mampu mengontrol diri dan melakukan sesuatu dengan bijak. Selain pentingnya sinergi antara IQ, EQ, dan SQ dalam mencapai keberhasilan pendidikan, pendidikan karakter juga harus  diperhatikan pada setiap jenjang pendidikan. Karena pendidkan karakter akan terbentuk mulai dari jenjang pra sekolah atau usia TK. Sehingga jenjang selanjutnya akan mematangkan karakter yang seharusnya dibentuk pada setiap siswa. 
Berangkat dari kasus-kasus penyimpangan maupun kejahatan di kalangan remaja yang sekarang sedang marak-maraknya, khususnya pada siswa pelajar SMP yang telah dijelaskan di atas, maka penulis akan menyajikan makalah tentang pengembangan kepribadian siswa SMP.


B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana perkembangan individu pada masa remaja?
2.      Apa peran guru dan orang tua dalam mengembangkan kepribadian siswa SMP?




BAB II
PEMBAHASAN
A.    Perkembangan Individu Pada Masa Remaja
Masa remaja sebenarnya tidak mempunyai tempat yang jelas. Ia tidak termasuk pada golongan anak, tidak juga golongan orang dewasa. Batasan usia remaja adalah masa diantara 12-21 tahun, dengan perincian 12-15 tahun masa remaja awal, 15-18 tahun masa remaja pertengahan, dan 18-21 tahun masa remaja akhir. Di Indonesia masa remaja masih merupakan masa sekolah. Remaja pada umumnya duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP) atau yang setingkat adalah usia 12-15 tahun yaitu masa remaja awal.
Anak remaja di desa-desa terutama di pelosok-pelosok masih saja dijumpai pada mereka yang tidak melanjutkan sekolah lagi, meskipun mereka dapat menikamati pendidikan sekolah dasar. Kebanyakan dari mereka yang tidak melanjutkan mereka membantu orang tuanya di sawah atau di ladang, bahkan ada yang mencari pekerjaan di kota. Bagi mereka yang tidak dapat melanjutkan dan tidak mendapat pekerjaan karena kesempatan kerja juga tidak banyak, maka banyak remaja yang tidak menentu nasibnya. Sehingga mereka banyak yang frustasi dan melakukan hal-hal negative. Kini masalah sekolah dan pekerjaan menjadi masalah remaja yang serius di Indonesia dan sangat memerlukan pengatasan yang tepat.
Masalahnya sekolah masih banyak kekurangan dalam mengatasi maslah yang terjadi pada sebagian besar remaja saat ini. Untuk itu betapa besar peran sekolah dalam memenuhi tugas-tugas perkembangan remaja, yaitu pendidikan kepribadian. Sekolah harus memberikan bantuan pada remaja pada saat remaja melepaskan secara emosional dari orang tuanya, pada saat mempersiapkan diri untuk ekonomis mandiri, mencari pekerjaan, membuat hubungan baik denagn teman-teman sebaya, pada saat remaja mencari waktu luang yang baik, dalam mengembangkan kemampuan kreatifnya. Sehingga mereka dapat tumbuh menjadi generasi yang cerdas dan kreatif, serta luhur budi pekerti.
1.      Teori Psikososial Erikson
Erikson adalah seorang teoritisi ternama dalam bidang perkembangan rentang hidup. Salah satu sumbangan terbesarnya yaitu teori psikososial tentang perkembangan. Dalam teorinya, Erikson membagi perkembangan manusia berdasarkan kualitas ego menjadi delapan tahap perkembangan.
TABEL 1
Tahap-tahap Perkembangan Psikososial Erikson
Tahap Psikososial
Usia kira-kira
Kepercayaan vs ketidakpercayaan
Lahir-1 tahun (masa bayi)
Otonomi vs rasa malu dan ragu-ragu
1-3 tahun (masa kanak-kanak)
Inisiatif vs rasa bersalah
4-5 tahun (masa pra-sekolah)
Ketekunan vsrendah diri
6-11 tahun (masa sekoalh dasar)
Identitas dan kebingungan peran
12-20 tahun (masa remaja)
Keintiman vs isolasi
20-24 tahun (masa awal dewasa)
Generativitas vs stagnasi
25-65 tahun (masa pertengahan dewasa )
Integritas ego vs keputusan
65 tahun-mati (masa akhir dewasa)

Masing-masing tahap terdiri dari tugas perkembangan yang khas, yaitu suatu masa yang krisis dimana individu harus mampu melewatinya. Semakin berhasil individu mengatasi krisis, akan semakin sehat perkembangannya.
Dalam karya klasiknya yang berjudul Identity: Youth and Crisis (1968), terlihat bahwa dari kedelapan tahap perkembangan Erikson lebih menekankan pada identitas vs. kebingungan peran yang terjadi selama remaja. Hal ini karena tahap tersebut merupakan masa peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa. Peristiwa-peristiwa yang terjadi pada tahap ini sangat menentukan perkembangan kepribadian masa dewasa. Pada masa ini individu mulai memiliki perasaan tentang identitas dirinya. Ia mulai menyadari sifat-sifat yang ada pada dirinya. Akan tetapi karena peraliha yang sulit dari masa anak-anak ke masa dewasa  dan kepekaan terhadap perubahan sosial, maka selama tahap pembentukan identitas ini seorang remaja mengalami penderitaan paling dalam dibandingkan pada masa-masa lain akibat kekacauan peranan atau kekacauan identitas. Kondisi tersebut membuat remaja memiliki perasaan terisolasi, hampa, cemas, dan bimbang. Mereka sangat peka terhadap caraa-cara orang lain memandang dirinya, mudah tersinggung dan merasa malu. Selama masa kekacauan identitas ini tingkah laku remaja tidak konsisten dan tidak dapat diprediksikan (Desmita, 2005:213-214).
Apabila seorang remaja pada masa ini berhasil berhubungan baik dengan lingkungan diamana ia berada, ia akan merasa damai dan tahu ke mana ia harus berjalan dan berbuat. Sebaliknya jika ia gagal mengatasi masa krisis ini ia bagaikan mengalami mati karena kebingngan akan jati dirinya yang tak tahu arah jalan hidup. Perasaan seperti itu akan mngakibatkan kemungkinan muncul suatu respons remaja terhadap berbagai perselisihan dan tuntutan pada masanya itu dengan cara mungkin menjadi penjahat atau terlibat dalam berbagai penyimpangan perilaku lainnya (A. Munir, 2002:71).
Berdasarkan kondisi demikian, tugas remaja yang harus diselesaikan adalah krisis identitas, sehingga terbentuk identitas diri yang stabil pada masa akhir remaja. Remaja yang berhasil melewati masa krisisnya yaitu mencapai suatu identitas diri yang stabil, akan mengetahui dengan jelas siapa dirinya.

2.      Perkembangan Sosial Remaja
Perkembangan sosial remaja ditandai dengan gejala meningkatnya pengaruh teman sebaya dalam kehidupan mereka. Sebagian besar waktunya dihabiskan bersama teman-teman sebaya mereka. Mereka suka berkelompok, mengadakan perkumpulan untuk bermain bersama atau membuat rencana bersama untuk saling tukar pengalaman. Aktivitas tersebut juga dapat bersifat agresif seperti mencuri, penganiayaan, tawuran antar pelajar, namun dalam hal ini biasanya dalakukan oleh kelompok anak yang nakal. Pada masa remaja hubungan dengan teman sebaya memiliki arti yang sangat penting bagi kehidpannya. Mereka menjalin hubungan dengan teman sebayanya lebih didasarkan pada hubungan persahabatan yang saling timbal balik.
Bebarapa ahli teori menekankan bahwa teman sebaya juga memiliki pengaruh negative terhadap perkembangan anak remaja. Bagi seorang remaja ditolak dan diabaikan oleh teman sebaya  menyebabkan perasaan kesepian hingga akhirnya permusuhan. Sejumlah ahli juga mengatakan budaya teman sebaya remaja merupakan bentuk kejahatan yang merusak nilai-nilai dan control orang tua. Bahkan teman sebaya dapat memperkenalakn remaja kepada obat-obatan terlarang, alcohol, kenalan, dan berbagai bentuk penyimpangan lainnya (Desmita, 2005:221).
Meskipun pengaruh teman sebaya berpengaruh besar terhadap kehidupan remaja, peran orang tua di sini sangat dibutuhkan sebagai pengontrol tingkah laku anaknya dalam bergaul dengan teman sebayanya agar anak remaja tersebut tidak masuk ke dalam pengaruh negative temannya.
3.      Perkembangan Seksualitas
Salah satu fenomenna kehidupan remaja yang paling menonjol adalah terjadinya minat peningkatan minat dan motivasi seksualitas. Peningkatan minat dan motivasi seksualitas ini dipengaruhi oleh perubahan-perubahan fisik selama pubertas. Yaitu matangnya organ-organ seksual dan perubahan-perubahan hormonal, mengakibatkan munculnya dorongan seksual pada diri remaja, bahkan lebih tinggi dibandingkan dorongan seksual orang dewasa.
Belakangan ini akibat dari perubahan-perubahan norma-norma budaya aktivitas seksual remaja terlihat semakin meningkat. Sejumlah data penelitian menunjukkan bahwa remaja mempunyai angka terbesar dalam melakukan hubungan seksual. Fenomena ini sangat mengkhawatirkan orang tua dan masyarakat. Meskipun seksualitas merupakan bagian normal dari perkembangan, tetapi perilaku seksual tersebut memiliki resiko tinggi yang tidak hanya ditanggung oleh remaja, tetapi orang tua bahkan masyarakat.

B.     Peran Guru dan Orang Tua Dalam Mengembangkan Kepribadian Siswa SMP (Anak Usia Remaja)
Melihat kondisi pada remaja saat ini, terutama di kalangan pelajar yang banyak melakukan tindakan penyimpangan, kriminalitas, maraknya perbuatan seksualitas di kalangan remaja menajadi perhatian khusus terutama bagi orang tua dan sekolah khususnya guru. Berdasarkan kondisi tersebut, peran orang tua dan guru sangat besar dalam rangka menanamkan pendidikan karakter pada kepribadian remaja agar mereka dapat menjalankan perannya sebagai remaja dengan baik.
1.      Peran Guru
Peran guru sebagai pendidik (nurturer) merupakan peran-peran yang berkaitan dengan tugas-tugas memberi bantuan dan dorongan (supporter), tugas-tugas pengawasan dan pembinaan (supervisor) serta tugas-tugas yang berkaitan dengan mendisiplinkan anak agar anak itu menjadi patuh terhadap aturan-aturan sekolah dan norma hidup dalam keluarga dan masyarakat. Tugas-tugas ini berkaitan dengan meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan anak untuk memperoleh pengalaman-pengalaman lebih lanjut seperti penggunaan kesehatan jasmani, bebas dari orang tua, dan orang dewasa yang lain, moralitas, tanggung jawab kemasyarakatan, pengetahuan dan keterampilan dasar, persiapan. Oleh karena itu tugas guru dapat disebut pendidik dan pemeliharaan anak. Guru sebagai penanggung jawab pendisiplinan anak harus mengontrol setiap aktivitas anak-anak agar tingkah laku anak tidak menyimpang dengan norma-norma yang ada.
Peranan guru sebagai pengajar dan pembimbing dalam pengalaman belajar. Setiap guru harus memberikan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman lain di luar fungsi sekolah seperti hasil belajar yang berupa tingkah laku pribadi dan spiritual dan mengarahkan peserta didik kepada hal-hal yang positif. Kurikulum harus berisi hal-hal tersebut di atas sehingga anak memiliki pribadi yang sesuai dengan nilai-nilai hidup yang dianut oleh bangsa dan negaranya, mempunyai pengetahuan dan keterampilan dasar untuk hidup dalam masyarakat dan pengetahuan untuk mengembangkan kemampuannya lebih lanjut.
2.      Peran Orang Tua
Pada masa remaja peran orang tua tidak lagi sangat berpengaruh terhadap kehidupan anak. Dengan kata lain, pengaruh orang tua mulai berkurang.  Anak juga merasakan tekanan dari teman sebaya (peer pressure) untuk mengadopsi nilai-nilai, kebiasaan, model rambut/pakaian, gaya, dan permainan yang sama dengan teman-teman dalam kelompok. Dengan kata lain, lingkungan pergaulan anak sangat berpengaruh. karena itu, anak perlu dibimbing untuk belajar membedakan dan memilih teman-teman dengan bijak.
Masa remaja adalah masa dimana anak sedang mencari siapa jati dirinya. Seperti apa dirinya sangat penting sekali diketahui olehnya. Sebab apabila si remaja tidak tahu siapa dirinya sedangkan pada masa itu teman sebaya memiliki pengaruh yang sangat besar pada dirinya, maka ia tidak akan berdaya mengevaluasi masukan maupun bujukan dari teman-temannya. Mereka akan cenderung mengikuti apa-apa yang dikatakan temannya.
Agar anak remaja memiliki konsep yang jelas, mengetahui siapa sebenarnya dirinya, maka di sini masukan dari orang tua sangat penting. Namun peran orang tua tidak hanya sebatas ketika anak memasuki usia remaja, melainkan sejak ank usia dini.
Beberapa hal yang bisa dan seharusnya dimasukkan oleh orang tua ke dalam diri anak:
a.    Orang tua perlu menanamkan kepada anak bahwa anak adalah seseorang yang mereka kasihi, yang bukan saja mereka sambut tapi sangat mereka kasihi. Dengan kata lain, mereka ini adalah anak-anak yang berharga di mata orang tua. Anak-anak perlu mengetahui bahwa mereka itu penting dan berharga.
b.    Orang tua juga perlu mengarahkan anak ke mana dia harus pergi, dengan siapa dia harus bergaul, bagaimana dia harus bertindak, hidup seperti apa yang baik. Kita perlu mengkomunikasikan pada anak, engkau ini sebetulnya siapa dan engkau seharusnya menjadi seperti apa. Yang menarik untuk diperhatikan adalah, ada anak yang pada waktu memasuki usia remaja mempunyai 2 sisi yang berbeda. Di rumah dia kelihatan manis sehingga menyukakan hati orang tua, tapi kemudian orang tua mendapat laporan yang bertolak belakang dari gurunya atau teman-teman mereka.
Ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan terjadinya hal ini:
1)      Kemungkinan pertama adalah dia kebetulan berkumpul dengan teman-teman yang mempunyai gaya atau nilai hidup yang sangat berbeda dengan yang dianut oleh orang tuanya.
2)      Anak-anak remaja memang sedang memasuki usia di mana dia mulai berpikir sendiri.
 Orang tua perlu memberitahukan pada anak-anak bahwa mereka mempunyai kemampuan atau keunikan tertentu. Di sinilah orang tua berfungsi sebagai pemberitahu, sebagai pemberi tanggapan, atau sebagai cermin yang bisa memberitahukan anak: "Inilah yang seharusnya kamu miliki dan inilah keadaanmu sekarang." Anak-anak perlu mengetahui apa kesanggupan, kebiasaan, keunikan, dan kekhususan yang dimilikinya.



                                                                                             BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Masa remaja adalah masa dimana si remaja sedang berusaha mencari siapa jati dirinya. Seseorang pada masa ini harus mencari tahu siapa dirinya sebenarnya. Pada masa ini teman sebaya memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kehidupannya. Karena pada masa ini orang tua kurang berpengaruh terhadap anak, justru teman sebaya yang lebih berpengaruh karena si remaja lebih banyak menghabiskan waktu di luar denagn teman sebayanya.
Remaja yang tidak dapat mengetahui siapa jati dirinya, maka ia tidak akan dapat mengevaluasi masukan maupun bujukan dari teman sebayanya, tetapi ia hanya akan mengikuti saja apa yang dikatakan oleh teman-temannya. maka dari itu di kalanagan remaja banyak terjadi perilaku penyimpanan, kriminalitas, seksualitas dan lain sebagainya dikarenakan kurangnya control diri pada remaja dan control orang tua terhadap anaknya. Untuk itu betapa pentingnya penanaman pendidikan karakter sejak dini terutama mulai dari lingkungan keluarga hingga sekolah, yaitu peranan guru dalam mendidik peserta didik agar mereka menjadi generasi muda penerus masa depan yang cerdas, kreatif dan berkepribadian akhlakul karimah. Karena masa depan suatu bangsa berada di tangan para pemuda yang tidak lain adalah anak remaja.


                                            REFERENSI

Desmita. 2005. Psikologi Perkembangan. Bandung: Rosdakarya.
Haditono, Siti Rahayu. 2006. Psikologi Perkembangan Pengantar dalam Berbagai Bagiannya.. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Mulkhan, Abdul Munir. 2002. Cerdas di Kelas Sekolah Kepribadian Rangkuman Model Pengembangan Kepribadian dalam Pendidikan Berbasis Kelas. Yogyakarta: Kreasi Wacana.
http://.Peran Orangtua dalam Pembentukan Jati Diri Remaja_TELAGA Tegur  Sapa Gembala Keluarga.htm















Tidak ada komentar:

Posting Komentar